Kamis, 02 April 2009

MENGENAL MEDITASI 10 AKSARA

Meditasi ini sesungguhnya sudah dikenal sejak lama, mungkin sudah berkembang sejak jamannya Panca

Pandita, Beliau adalah:

1. Mpu Gnijaya.

2. Mpu Ghana.

3. Mpu Semeru.

4. Mpu Kuturan.

5. Mpu Baradah.

Adapun konsep meditasi ini mengajak kita untuk lebih memahami diri kita, dengan melakukan pengkajian kedalam diri bukan keluar, dari mulai membedakan mana tubuh dan mana roh, sampai merubah sifat tubuh menjadi sifat roh. Diharapkan ketika seseorang sudah berada pada tingkat mahir menerapkan meditasi ini, maka mereka akan merasakan tubuhnya yang diikat oleh sang roh, bukan sang roh yang diikat oleh sang tubuh.

Karena Sang Panca Pandita yang digunakan sebagai guru spiritual meditasi ini, maka si Penulis menekankan konsep Tri murti sebagai dasar keyakinannya, dan mewajibkan bagi mereka yang ingin mencoba menerapkan dan memperdalam meditasi 10 (dasa) aksara ini diwajibkan tangkil ( datang ) kecatur Kayangan untuk mohon restu kepada beliau.


Catur Kayangan yang dimaksud adalah:

· Pura Lempuyang, memohon restu kepada Mpu Gnijaya.

· Pura Besakih, memohon restu kepada Mpu Smeru.

· Pura Dasar Buana di Gelgel, memohon kepada Mpu Ghana.

· Pura Silayukti, Memohon restu kepada Mpu Kuturan.


Ajaran Tri murti dan meditasi 10 (dasa) aksara saling melengkapi, dimana mengajarkan kita memahami Tuhan dengan amat sederhana, dan menyederhanakan pikiran karena pikiranlah sumber dari segala keinginan, yang membawa kita pada penderitaan, bahkan kita semakin jauh dari tujuan hidup yaitu Moksa ( Pembebasan dari ketrikatan) dan tak jarang kita menjadi tidak percaya dengan Moksa (pembebasan) tersebut.

Trimurti dan Meditasi 10 (dasa) Aksara memberikan gambaran bahwa Hindu yang berkembang di Bali menjadi berbeda dengan yang ada di mana-mana, bahkan dengan yang ada di India, karena leluhur pendahulunya menggunakan aksara Dewa Nagari hasil perpaduan antara huruf Palwa dan sansekerta, akhirnya dari hasil persilangan tersebut melahirkan huruh baru menjadi:


A, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La,

Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya.


Oleh Leluhur dijelaskan, bahwa dengan memahami huruf-huruf Dewa Nagari itu sesungguhnya kita bisa mengenal sekaligus memahami Tuhan dan ciptaanya.

Karena aksara tersebut diatas, sesungguhnya simbul-simbul dari bentuk alam yang diciptakan Tuhan, sekaligus ada di dalam tubuh Manusia. Dan untuk memahami sifat alam dan penciptannya leluhur memadukan akasara


Dewa Nagari tersebut menjadi 10 (dasa) aksara yakni:


Sang, Bang, Tang, Ang, Ing

Nang, Mang, Sing, Wang, Yang.


Aksara-aksara inilah yang nantinya digunakan dalam meditasi, karena aksara-aksara ini sesungguhnya sudah menjadi sifat roh yang utama ( Tuhan ), dan agar kita bisa merasakan sifat rohani Tuhan, maka kita letakan simbul-simbul aksara tadi kedalam organ tubuh kita, dengan melakukan metode meditasi 10 aksara.

Ada 5 (lima) tahapan dalam melakukan meditasi 10 (dasa) aksara:

1. Menjadikan tubuh sama dengan alam, dengan cara mengosongkan segala keinginan, biarkan tubuh bekerja sesuai proses hukum sebab akibat, misal makan saat lapar, berhenti makan sebelum kenyang.

2. Bersihkan hati, karena di sana ada Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Ngadeg, caranya dengan membersihkan hati dari segala iri dan dengki, emosi, serakah, dan kebodohan.

3. Bersihkan pikiran karena disana ada kekuatan Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Sunsang, caranya lakukan sangkirtanam ( menyebut nama Tuhan), hingga pikiran hanya terisi nama dan sifat Tuhan.

4. Meditasi 10 (dasa) aksara.

5. Melakukan perenungan kedalam untuk mendapar pencerahan.

Dengan menerapkan Trimurti dan meditasi 10 (dasa) aksara, membuktikan bahwa Hindu di Bali sesungguhnya amat sederhana dan amat fleksibel dan tidak ada sedikit pun menyimpang dari Weda. Dan menurut sistem (metode ini) justru moksa dalam Tri murti (pembebasan) akan dicapai, apa bila terbebas dari segala perbedaan yang ada di dunia tanpa menyamakannya.






2 comments:

  1. OSA, Umat Sedharma, saya melakukan ini dengan memberanikan diri dengan keyakinan atas petunjuk serta tuntunan Beliau Sang Hyang Catur Kayangan. Yang jelas pada akhir meditasi disaat menyatukan hati dan pikiran bdan saya merasakan adanya getaran dan ubun2 kepala seperti terbuka oleh karena kebesaran Ida.

    OSSSO, Made

    BalasHapus
  2. mengesan kan patut saya coba, ini sangat menarik,..

    BalasHapus

beri komentar pada posting ini